Kamis, 28 Maret 2013

Kekerasan Terhadap Anak

Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. Di  Amerika Serikat (CDC) mendefinisikan penganiayaan anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan wali atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lainnya yang dihasilkan dapat membahayakan, atau berpotensi bahaya, atau memberikan ancaman yang berbahaya kepada anak. Sebagian besar terjadi kekerasan terhadap anak di rumah anak itu sendiri dengan jumlah yang lebih kecil terjadi di sekolah, di lingkungan atau organisasi tempat anak berinteraksi. Ada empat kategori utama tindak kekerasan terhadap anak: pengabaian, kekerasan fisik, pelecehan emosional/psikologis, dan pelecehan seksual anak.
Yurisdiksi yang berbeda telah mengembangkan definisi mereka sendiri tentang apa yang merupakan pelecehan anak untuk tujuan melepaskan anak dari keluarganya dan/atau penuntutan terhadap suatu tuntutan pidana. Menurut Journal of Child Abuse and Neglect, penganiayaan terhadap anak adalah "setiap tindakan terbaru atau kegagalan untuk bertindak pada bagian dari orang tua atau pengasuh yang menyebabkan kematian, kerusakan fisik serius atau emosional yang membahayakan, pelecehan seksual atau eksploitasi, tindakan atau kegagalan tindakan yang menyajikan risiko besar akan bahaya yang serius". Seseorang yang merasa perlu untuk melakukan kekerasan terhadap anak atau mengabaikan anak sekarang mungkin dapat digambarkan sebagai "pedopath".

Penalaran Karangan

  1. 1.   Pengertian Penalaran
Penalaran mempunyai beberapa pengertian, yaitu: (1) proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan, (2) menghubung-hubungkan fakta atau datasampai dengan suatu simpulan, (3) proses menganalisis suatu topic sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru, (4) proses mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan derajat hubungan dan simpulan, (5) pembahasan suatu masalah sampai menghasailkan suatu simpulan atau pengertian baru.
Unsur-unsur penalaran karangan ilmiah:
1)      Topik yaitu ide sentral dalam bidang kajian dan berisi sekurang-kurangnya dua variable.
2)      Dasar pemikiran, pendapat, atau fakta dirumuskan dalam bentuk proposisi yaitu kalimat     pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau kesalahannya.
3)      Proposisi mempunyai beberapa jenis, antara lain:
(a)    Proposisi empirik yaitu proposisi berdasarkan fakta. Misalnya: Rajin pangkal pandai.
(b)    Proposisi mutlak yaitu pembenaranyang tidak memerlukan pengujian. Missalnya: Kursi adalah tempat untuk duduk.
(c)     Proposisi hipotetik yaitu persyaratan hubungan subjek dan predikat yang harus dipenuhi. Misalnya: Jika dilamar, Icha akan menerimanya.
(d)    Proposisi kategoris yaitu tidak adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat. Misalnya: Tedi akan menikahi Komala.
(e)    Proposisi positif universal pernyataan positif yang mempunyai kebenaran mutlak. Misalnya: Semua yang hidup mempunyai cinta.
(f)     Proposisi positif parsial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsure pernyataan tersebut bersifat positif. Misalnya: Sebagian mahasiswa ingin cepat lulus.
(g)   Proposisi negatif universal yaitu kebalikan dari proposisi positif universal. Misalnya: Tidak ada cinta bagi yang mati.
(h)   Proposisi negatif parsial yaitu kebalikan darai proposisi positif parsial. Misalnya: Sebagian pelajar tinggal kelas.
4)      Proses berpikir ilmiah yaitu kegiatan yang dilakukan secara sadar, teliti, dan terarah menuju suatu kesimpulan.
5)      Logika yaitu metode pengujian ketepatan penalaran, penggunaan argumen (alasan), argumentasi (pembuktian), fenomena, dan justifikasi (pembenaran).
6)      Sistematika yaitu seperangkat proses atas bagian-bagian atau unsure-unsur proses berpikir ke dalam suatu kesatuan.
7)      Permasalahan yaitu pertanyaan yang harus dijawab (dibahas) dalam karangan.
8)      Variabel yaitu unsur satuan pikiran dalam sebuah topik yang akan dianalisis.
9)      Analisis (pembahasan, penguraian) dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklarifikasi, mencari hubungan (korelasi), membandingkan, dan lain-lain.
10)   Pembuktian (argumentasi) yaitu proses pembenaran bahwa proposisi itu terbukti kebenarannya atau kesalahannya. Ini harus disertai dukungan yang berupa: metode analisis, baik manual maupun berupa softwer (misalnya: SPSS). Selain itu, pembuktian harus disertai data yang mencukupi, fakta, contoh, dan hasil analisis yang akurat.
11)   Hasil yaitu akibat yang ditimbulkan dari sebuah analisis induktif atau deduktif.
12)   Kesimpulan (simpulan) yaitu penafsiran atas hasil pembahasan. Dapat berupa implikasi atau inferensi.
  1. 2.   Penalaran Induktif
Proses bernalar, pada dasarnya, ada dua macam, yaitu induktif dan deduktif. Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri dengan kesimpulan umum. Kesimpulan inin dapat berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum atas fakta yang bersifat khusus. Ada tiga macam penalaran induktif, diantaranya: generalisasi, analogi, dan sebab-akibat.
Generalisasi adalah proses penalaran berdasarka pengamatan atas sejumlah data yang bersifat khusus yang disusun secara logis dan diakhiri dengan kesimpulan yang bersifat umum. Analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas data khusus dengan membandingkan atau mengumpamakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum. Sebab-akibat adalah proses penalaran berdasarka hubungan antardata yang mengikuti pola sebab-akibat, akibat-sebab, sebab – akibat-akibat.
Contoh:
(1)   Seorang polisi lalu lintas mengidenfikasi proses terjadinya kecelakaan lalu lintas di perempatan Rawamangun Muka, persilangan Rawamangun MUka-Utan Kayu dan Cililitan-Tanjung Priok, yang terjadi pada tanggal 11 April 2011 pukul 07.30 pagi tadi. Sebuah truk dari arah Cililitan menabrak bajaj sehingga terpental 100 meter, bagian depan truk penyok sedalam 15 cm, dan supir bajaj terpental keluar dari kendaraannya. Seorang saksi mata menuturkan bahwa bajaj tersebut terpental berguling-guling di udara. Dalam pengamatannya, melalui proses penghitungan waktu, polisi menyatakan bahwa pada saat truk melintas dari arah Cililitan ke Rawamangun Muka lampu hijau menyala dan dibenarkan oleh para saksi. Polisi juga menyatakan bahwa dalam keadaan lampu menyala merah sebuah bajaj berkecepatan tinggi dari arah Tanjung Priok menerobos sehingga tertabrak oleh truk yang sedang berbelok dari arah selatan kea rah Rawamangun Muka. Hasil pengamatan: supir bajaj terbukti bersalah. Kesimpulan: (1) supir bajaj menanggung biaya kerusakannya sendiri, (2) supir bajaj mengganti biaya perbaikan truk yang menabraknya, (3) supir bajaj membayar denda atas pelanggarannya.
Karangan ilmiah kualitatif induktif dilandasi penalaran (1) observasi data, (2) menyusun estimasi (perkiraan desain), (3) verifikasi analisis pembuktian, (4) pembenaran/komparasi konstan (terus-menerus dan berkelanjutan sampai suatu simpulan), (5) konfirmasi (penegasan dan pengesahan) melalui pengujian hipotesis, (6) hasil generalisasi/induksi, (7) konklusi (simpulan: penafsiran atas hasil berupa implikasi atau inferensi).
Proses bernalar diawali dari topic sampai dengan simpulan: Topik – (mendesain kerangka dasar penalaran) menjadikannya sebuah kerangka karangan – (mendesain metode) pengumpulan data, deskripsi data, dan analisis – (menetapkan) hasil analisis – kesimpulan (menafsirkan hasil analisis).
Gb. 1 perbandingan penalarn indduktif dan deduktif.
  1. 3.   Penalaran Deduktif
      Penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir logis yang diawali dengan penyajian fakta yang bersifat umum, disertai pembuktian khusus, dan diakhiri simpulan khusus yang berupa prinsip, sikap, atau fakta yang berlaku khusus. Karangan deduktif mempunyai bermacam-macam jenis berdasarkan tehnik pengembangannya maupun uraian isinya. Dalam paragraf sederhana jenis-jenis tersebut dapat dilihat pada contoh berikut.
Contoh:
(2)   Kegiatan LKMSM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Siswa Muslim) pada bulan Ramadhan sangat meriah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Siswa-siswi Kota Depok yang diadakan di sekolah SMAN 1 Depok.Dan yang dibimbing oleh Mahasiswa UI Depok. Semua Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan tersebut sangat semangat apalagi para Panitia dan Pembimbing sudah menyiapkan Hadiah dan Sertifikat untuk Siswa yang berprestasi saat mengikuti acara.
Paragraf di atas berupa karangan deduktif. Proses penalaran diawali dengan (1) pernyataan yang bersifat umum: Kegiatan LKMSM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Siswa Muslim) pada bulan Ramadhan sangat meriah, (2) pembahasan kuantitasi peserta, (3) spesifikasi keadaan kegiatan, (4) pemberian hadiah dan sertifikat untuk siswa yang berprestasi saat mengikuti acara.
Dalam karangan (laporan penelitian) deduktif kuantitatif ditandai dengan penggunaan angka kuantitatif yang bersifat rasional. Secara rinci proses penalaran tersebut menguraikan:
1)       Bidang observasi: berdasarkan bidang studi kajian,
2)       Rumusan masalah: pertanyaan yang akan dibahas,
3)       Kerangka teori: berisi pola pembahasan variable,
4)       Tujuan: tahapan kegiatan yang hendak dicapai,
5)       Rumusan hipotesis dan penjelasannya,
6)       Deskripsi data: diperlukan untuk pengujian hipotesis,
7)       Desain penelitian (metode penelitian): proses pengumpulan data, pengolahan, hasil analisis data, sampai dengan simpulan,
8)       Analisis data,
9)       Hasil analisis,
10)   Simpulan deduktif: interpretasi atas hasil.

3.1 Urutan Logis
Karangan disusun berdasarkan satu kesatuan konsep, dikembangkan dalam urutan logis, sistematik, jelas, dan akurat. Urutan dapat disusun berdasarkan urutan peristiwa, waktu, ruang, penalaran (induksi, deduksi, sebab-akibat), proses, kepentingan, dan sebagainya. Berikut beberapa contoh paragraf dalam urutan tersebut.
3.1.1 Urutan Peristiwa (Kronologis)
Karangan dengan urutan peristiwa secara kronologis berarti menyajikan bahasan berdasarkan urutan kejadian. Peristiwa yang terjadi lebih dahulu diuraikan lebih dulu, peristiwa yang terjadi kemudian diuraikan kemudian. Urutan dapat disajikan dengan pola sebagai berikut:
Cara pertama: urutan kronologis secara alami.
Peristiwa 1,
Peristiwa 2,
Peristiwa 3, dan seterusnya.
Cara kedua: urutan peristiwa dengan sorot balik (flashback).
  1. Peristiwa terakhir
  2. a. Peristiwa pertama
b. Peristiwa kedua
c. Peristiwa ketiga
  1. Peristiwa terakhir.
(1)   Peristiwa terakhir, (2) peristiwa pertama s.d. ketiga dalam bentuk sorot balik atau flashback, (3) kembali peristiwa terakhir dan melanjutkan cerita.
3.1.2 Urutan Ruang
            urutan ruang dipergunakan untuk menyatakan hubungan tempat atau ruang.
Contohnya:
(3)               Di tengah sebuah kamar yang teduh, aku duduk bersila sambil ditemani angin yang pelan. Asalnya dari kipas angin tua yang berada semeter di sampingku. Pasti kipas renta itu bosan karena yang dilakukannya dari tadi hanya memutar baling-balingnya. Jika aku menengadah ke atas, aku akan melihat sebuah lampu menumpahkan cahayanya ke seluruh penjuru kamar. Kamar ini kira-kira memiliki besar yang sama dengan setengah besar lapangan tenis. Di depanku ada sebuah ranjang yang hanya muat untuk satu orang. Di atasnya ada tiga bantal berserakan. Bantal di ujung kanan dan kiri bergambar Spiderman dan Batman, sedangkan bantal di antara keduanya bergambar bunga-bunga. Aku jadi penasaran apa yang kira-kira bisa dilakukan dua “superhero” dunia dengan bunga-bunga di atas ranjang.
Sebuah jam dinding berwarna cokelat digantung di atas meja belajar di dekat pintu. Pukul satu dini hari sekarang. Jarum detik yang tipis berputar dengan rapi dan konsisten. Jarum-jarum jam itu tak pernah mengenal eksistensialisme sebab arah putarannya selalu sama sepanjang waktu. Meja belajar, di bawahnya, sudah terlalu sesak dengan barang-barang nonedukatif. Di atas meja itu ada sebungkus kopi instan, sekotak tisu, kartu remi, botol air mineral yang sudah kosong, obat-obatan, pengharum ruangan dan krim pencuci muka. Lalu di rak atasnya ada satu pak korek kuping, odol, minyak wangi, pencuci rambut, dan kaleng bekas susu. Ada sebuah kursi biru yang melengkapi meja itu, namun jaket putih ditaruh secara asal di situ.
Di samping meja belajar itu ada ruang kosong yang sengaja disediakan agar pintu lemari yang berada di pojok bisa terbuka. Tapi keadaannya tidak betul-betul kosong. Di situ berserakan celana jins, sajadah, sarung, jaket, sapu lidi, timbangan berat badan, keset, dan korek kuping bekas yang semuanya hidup pluralis. Ada sebuah gitar di pojok lain kamar ini. Senar kesatunya sudah putus, membuat senar nada B di atasnya kehilangan satu sahabat resonansi. Alat musik konvensional didalam kamar ini tampaknya hanya gitar itu.
Malam makin larut dan suasana makin sepi. Sebetulnya ada suara-suara kendaraan yang melintas nun jauh puluhan meter di jalan raya, yang sepersekian desibelnya mampu melintas melebihi kecepatan kendaraan itu sendiri dan sampai ke telingaku. Para pengendara malam itu tidak akan pernah menyangka ada seseorang yang sedang mendengarkan mereka. Mereka hanya memikirkan tujuan. Kalau saja aku menyalakan benda elektronik yang ada di kamar ini, misalnya saja televisi yang dari tadi bertengger di atas rak kecil persis di sebelah lemari. Layar empat belas incinya dari tadi merekam setiap gerakanku. Ada antena yang besarnya seperempat televisi itu sendiri. Warnanya oranye, besi-besi transmisinya penyok, dan kabel koaksialnya terbenam di punggung televisi. Mungkin hanya akan terjadi keriuhan kecil karena aku tak mungkin menyalakan benda itu dengan suara keras pada jam seperti ini.
Kita lihat dalam tulisan di atas urutan ruang dipergunakan bersamaan dengan urutan waktu. Untuk menyatakan urutan ruang itu antara lain kita dapat menggunakan ungkapan-ungkapan:
di sana, di sini, di situ,
di, pada,
di bawah, di atas,
di tengah,
di utara, di selatan,
di depan, di muka,
di belakang, di muka,
di kiri, di kanan,
di luar, di dalam,
berhadapan,
bertolak belakang dengan,
berseberangan,
melalui, belok kanan,
belok kiri, ke depan,
ke atas, ke samping,
di sisi, di seberang,
di hadapan,
di persimpangan.
3.1.3 Urutan Alur penalaran
            Berdasarkan alur penalarannya, suatu paragraf dapat dikembangkan dalam urutan umum-khusus dan khusus-umum. Urutan ini telah  dibahas pada bagian sebelumnya. Urutan ini menghasilkan paragraf deduktif dan induktif. Dalamkarangan yang panjang terdiri beberapa bab akan menghasilkan bab simpulan.
Urutan umum-khusus banyak dipergunakan dalam karya ilmiah. Tulisan yang paragraf-paragrafnya dikembangkan dalam urutan ini secara menyeluruh lebih mudah dipahami isinya. Dengan membaca kalimat-kalimat pertama pada paragraf-paragraf itu, pembaca dapat mengetahui garis besar isi seluruh karangan (lihat contoh paragraf induktif dan deduktif sebelumnya).

3.1.4 Urutan kepentingan
Suatu karangan dapat dikembangkan dengan urutan berdasarkan kepentingan gagasan yang dikemukakan. Dalam hal ini arah pembicaraan ialahdari yang paling penting sampai kepada yang paling tidak penting atau sebaliknya.
Contohnya:
(4)               Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun hipotesis. Yang paling penting ialah penyusunan kerangka berpikir berdasarkan atas suatu teori yang dipergunakan sebagai landasan deduksi.kerangka piker inilah yang akan menentukan apa hipotesis yang diajukan mengenai hubungan variabel yang dimasalahkan. Hal berikut yang tidak boleh diremehkan ialah aspek bahasanya.
Suatu hipotesis harus dinyatakan dalam kalimat pernyataan bahwa hipotesis harus dinyatakan sejelas mungkin dan didukung oleh kalimat sesederhana mungkin.
4. Isi karangan
Isi karangan dapat berupa sajian fakta ( benda,kejadian,gejala,sifat atau ciri sesuatu dan sebagainya ), pendapat /sikap dan tanggapan ,imajinasi ,ramaln dan sebagainya. Karya ilmiah berisi sajian ilmu pengetahuan dan teknologi, membahas permasalahan ,pembahasan dan pembuktian. Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta,generalisasi,spesifikasi,klasifikasi,perbandingan dan pertentangan ,sebab-akibat,analogi dan perkiraan (ramalan)
4.1  Generalisasi dan Spesifikasi
Proses penarikan kesimpulan generalisasi disebut generalisasi juga, jadi generalisasi adalah pernyataan yang berlaku untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Suatu generalisasi mencakup ciri-ciri umum yang menonjol bukan rincian. Didalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang pembuktian dengan fakta,contoh-contoh ,data statistik dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus.
Contoh :
Gempa di aceh 26 desember 2004 yang berkekuatan 9 pada skala rigter itu menimbulkan korban jiwa yang terus berjatuhan hingga 31 desember 2004 di srilanka 28.508 orang, india 10.736 orang, thailand 4.500 orang dan di aceh 79.940 dan cenderung bertambah. Selain itu, hingga 2 januari 2005, sekalipun belum ada angka pasti , korban menderita sakit berat dan cacat tubuh yang diakibatkan oleh gempa dan gelombang tsunami yang sangat dahsyat itu di aceh dapat diperkirakan cukup besar. Korban harta benda, termasuk rumah tinggal yang luluh lantah rata dengan tanah dan sebagian terbawa gelombang air laut  tersebut diperkirakan mencapai belasan triliyun rupiah. Korban gempa di aceh ini merupakan yang terbesar di dunia.
Bagian yang dicetak miring merupakan kesimpulan generalisasi. Generalisasi itu didukukng dengan detail awal yang disusun secara logis menuju generalisasi. Perhatikan kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan generalisasi dan ungkapan pendukung.
Ungkapan generalisasi :
Terbesar, ter…                               tidak pernah
Paling besar,                                  pada umumnya
Semua, setiap                                secara keseluruhan,
Ungkapan pendukung :
Cenderung,                                     pada galibnya,
Pada umumnya,                             selalu,
Sebagian besar,                              dukungan kuantitatif (angka)
Perlu diperhatikan bahwa bukti-bukti atau rincian penunjang harus relevan dengan generalisasi yang dikemukakan. Paragraf yang mencatumkan penunjang yang tidak relevan dipandang tidak logis.
Generalisasi yang mengemukakan fakta disebut generalisasi. Faktual atau opini. Generalisasi faktual lebih mudah diyakini oleh pembaca daripada generalisasi yang berupa pendapat atau penilaian. Fakta mudah dibuktikan, mudah diuji kebenarannya, sedangkan opini atau penilaian sulit dibuktikan atau diuji. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut :
(1)   a. Kependudukan merupakan masalah pokok dunia
b. Baginya masalah itu terlalu remeh
(2)   a. Guru adalah tenaga kependidikan
b. Sudah selayaknya guru di soroti masyarakat
Dengan segera kita dapat diketahui bahwa pernyataan-pernyataan a mengemukakan fakta sedangkan b mengemukakan penilaian/ pendapat.
Selanjutnya, generalisasi dapat berupa pokok pembicaraan, seperti geografi , sastra/seni, teknologi, bangsa, negara dan sebagainya. Dalam paragraf, generalisasi itu dapat diletakkan pada bagian awal atau akhir.
4.2  Klasifikasi
Klasifikasi adalah pengelompokkan fakta berdasarkan atas ciri atau kriteria tertentu. Klasifikasi ada dua jenis yaitu klasifikasi sederhana yang hanya mengelompokkan objek menjadi dua kelompok , misalnya : manusia terdiri dua jenis yaitu pria dan wanita ; dan klasifikasi kompleks yang mngelompokkan objek menjadi tiga kelompok atau lebih, misalnya : usia manusia dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok yaitu anak balita ,anak usia  sekolah SD,SMP dan SMU, orang dewasa dan manula.
Baik klasifikasi sederhana maupun kompleks harus didasarkan kriteria ciri yang menandai fakta yang akan diklasifikasikan. Klasifikasi dalam penalaran ini berbeda dengan pembagian. Tetapi jika kita mengklasifikasi ke dalam lima kelompok menurut indeks prestasi belajarnya, hasilnya :
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 4,
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 3,
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 2
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 1 , dan
  • kelompok mahasiswa dengan IPK lebih kecil dari 1
sekumpulan fakta atau data diklasifikasikan berdasarkan kriteria. Misalnya, klasifikasi mahasiswa menurut umurnya, hobinya, jenis kelaminnya, tempat tinggalnya, latar belakang pekerjaan orang tuanya dan sebagainya. Kriteria ini bergantung kepada keperluan atau masalah yang dihadapi. Yang penting kita harus memilih kriteria yang paling logis dan dilakukan secara konsisten.
Dalam pengembangan karangan, klasifikasi merupakan sejenis generalisasi. Fakta yang banyak dikelompokkan menurut persamaan/perbedaab yang ada. Dengan demikian sekurang-kurangnya sudah dikemukakan dua macam generalisasi yaitu generalisasi biasa dan generalisasi klasifikasi contoh :
  1. bahasa-bahasa di madagaskar, formosa, filipina dan indonesia termasuk rumpun bahasa austronesia ( generalisasi klasifikasi )
  2. semua mahasiswa mampu berpikir mandiri ( generalisasi biasa )
untuk menulis klasifikasi  diperlukan kata-kata atau ungkapan berikut :
jenis , tipe,                               dengan mudah dapat dikelompokkan
cara, sumber,                           dengan jelas dapat dibedakan,
bagian,aspek,dipandang,          ditinjau dari,
kategori,ciri-ciri,                      menurut, dapat dibagi,
kelas,dengan mengingat,          golongan, sesuai dengan
contoh :
(8)  Jenis transportasi modem yang digerakkan dengan mesin dapat diklasifikasi menjadi : transportasi udara, laut dan darat. Pertama, transportasi udara terdiri dua jenis, yaitu : pesawat terbang sipil dan pesawat terbang militer. Kedua, transportasi darat terdiri dari kereta api, mobil dan sepeda motor ; masing-masing dapat digunakan untuk keperluan militer maupun sipil. Selain itu, masing-masing terdiri beberapa jenis berdasarkan daya angkut, kecepatan melaju atau kapasitas penumpang. Ketiga, transportasi laut menggunakan kapal. Kapal ini dapat diklasifikasi berdasarkan besar-kecilnya, daya jelajahnya, fungsinya dan sebagainya.
4.3 Perbandingan dan Pertentangan
Perbandingan dan pertentangan sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda tetapi erat hubungannya sehingga seringkali dibicarakan bersama-sama. Keduanya seringkali terdapat dalam satu karangan.
Perbandingan membahas kesamaan dan kemiripan sedangkan pertentangan membahas perbedaan dan ketidaksamaan. Kalimat-kalimat berikut merupakan indikator perbandingan dan pertentangan.
Dahulu di gunung kidul air sangat langka,sekarang mudah didapat.
Perbedaan sistem liberal dan demokrasi pancasila
Apa persamaan antara suling dengan klarinet?
Anak muda sekarang lebih bebas bergaul daripada anak muda dahulu
India adalah negara benua sedangkan indonesia adalah negara maritim.
Perhatikan contoh berikut
(9)  kerangka karangan ada dua macam yaitu kerangka topik dan kerangka kalimat. Keduanya sama baiknya. Perbedaannya terletak pada bentuk dan pemakaiannya. Kerangka topik terdiri dari butir-butir yang merupakan topik-topik dan digunakan jika kita mengemukakan taraf-taraf dalam suatu proses, kerangka kalimat terdiri dari butir-butir yang merupakan kalimat dan merupakan bentuk yang lebih baik jika kita mengemukakakan gagasan.
Paragraf di atas sekaligus mengemukakan perbandingan dan pertentangan, yaitu persamaan dan perbedaan antara kerangka topik dan kerangka kalimat. Kata-kata/ungkapan yang dipergunakan untuk menyatakan perbandingan dan pertentangan di antaranya :
Untuk membandingkan:                                                          Untuk mempertentangkan:
Sama dengan,                                                              berbeda dengan,
Seperti,                                                                                    bertentangan dengan,
Seperti halnya,                                                                         berlawanan dengan,
Menyerupai,                                                                ….sedangkan…..,
Hampir sama dengan,                                                  sebaliknya
Selaras dengan,                                                                        dipihak lain,
Sesuai dengan,                                                             kurang dari,
Tepat sama dengan,                                                     tidak sama dengan,
Demikian juga,                                                                        akan tetapi,
Sama saja,                                                                    halnya dengan,
Serupa dengan,                                                                        meskipun,
Sejalan dengan,                                                                        lain halnya dengan.
Perhatikan contoh perbandingan berikut ini.
(10)                                          Ion Hutan dan Plasmacluster
Hutan memiliki mekanisme membersihkan udara secara alami. Proses berlangsung dengan prinsip keseimbangan ion positif dan ion negatif. Penelitian Sharp Corporation menyebutkan bahwa hutan memiliki lebih kurang 4200 ion/cc udara ion positif dan ion negatif. Sedangkan udara perkotaan mengandung ion negatif 100 ion/cc dan 500 ion/cc. Namun, kondisi ini kurang efektif mengurangi bakteri dan jamur. Ini berbakti belum efektif mengurangi sumber penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara dalam ruang.
Generator plasmacluster( Sharp)  didesain untuk menghasilkan ion positif dan ion negatif, masing-masing 50.000 ion setiap detik. Penelitian departemen biologi ITB menyimpulkan plasmacluster mampu menonaktifkan bakteri di ruang sebesar 320  hingga 100% selama 6 jam dan jamur hingga 100% dalam waktu 12 jam. Selain  itu penelitian kitasato research centre of environmental sciences ( jepang, ion positif dan ion negatif dapat mengatasi bakteri, jamur dan virus. ( kompas, 20 Agustus 2004 )
(11)      film misteri bertentangan dengan upaya mencerdaskan anak. Banyak orang tua mengeluhkan anaknya menjadi penakut. Mereka mengambil minum di ruang makan sendiri pun tidak berani. Bahkan, mereka belajar pun juga harus ditemani. Ibu yang menemani tertidur, ia pun ikut tidur. Namun, tayangan acara tersebut tetap berlangsung. Iklan yang mendukung acara ini juga banyak. Artinya, tayangan  film ini cukup laku : banyak penggemar dan banyak sponsor.
4.4  Sebab dan Akibat
Suatu peritiwa dapat menyebabkan serangkain akibat sehingga timbullah serangkaian sebab-akibat. Dalam proses sebab-akibat, sebab dan akibat itu kerap kali tidak jelas, mana sebab dan mana akibat. Setiap titik pada sisi lingkaran dapat merupakan awal dan akhirnya. Peristiwa awal merupakan sebab terhadap peristiwa berikutnya dan sebaliknya.
Sebab-akibat ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1)      Satu sebab-satu akibat
2)      Sebab-akibat berkelanjutan  membentuk lingkaran
3)      Satu sebab-banyak akibat
4)      Banyak sebab-satu akibat
5)      Sebab- akibat berkelanjutan menuju situasi memburuk
6)      Sebab-akibat berkelanjutan menuju situasi  membaik
Proses mengarang dengan penalaran sebab-akibat: 1) menentukan topik, 2) menentukan pola, 3) menetukan sebab, 4) mulai menulis dengan kalimat topik yang menjadi sebab, 5) menjelaskan sebab-sebab tersebut, mengapa sebab-sebab itu bisa terjadi, 6) menyebutkan/ menjelaskan akibat yang ditimbulkan.
Kata atau ungkapan yang lazim digunakan :
Oleh sebab itu, dengan pertimbangan bahwa
Oleh karena itu,                                   dengan alasan itu
Akibatnya,                               dengan alasan itu
Alhasil, jadi,                            pengalaman membuktikan bahwa
Sebab,                                      karena,
Contoh :
(12)   Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) diawali pada masa orde baru. Pada ,masa itu, KKN mulai lahir, tumbuh menjadi besar dan menyebar ke seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa indonesia. Penyebaran bagaikan virus ganas,KKN merasuki berbagai lembaga eksekutif,legislatif dan yudikatif. Bahkan, pada tahun 2004 ini begitu banyak kasus KKN di kalangan DPRD di berbagai daerah terungkap. Akibatnya, begitu banyak masalah bangsa sulit teratasi. Misalnya pencurian penebangan hutan secara liar hingga saat ini 2004 masih berlangsung. Orang yang berakal  sehat tidak percaya, pemerintah tidak mampu mengatasi pencurian hutan, pencemaran lingkungan, narkoba dan lain-lain. Selain itu, pertumbuhan ekonomi terlalu lambat, kepastian hukum tidak berlangsung semestinya, kualitas SDM menjadi amat rendah di banding negara lain yang dulunya di bawah kualitas bangsa indonesia.
4.5 Analogi
Analogi adalah suatu bentuk kias persamaan atau perbandingan dua atau lebih objek yang berlainan, misalnya manusia dan semut, malaikat dan manusia. Kedua objek tersebut dicari persamaannya ( bukan perbedaannya ). Pengungkapan, secara garis besar analogi dapat dibedakan atas :
  1. Analogi sederhana
  • Mudah dipahami karena mencari persamaan dua objek yang tidak menuntut penjelasan fakta secara mendalam dan sudah lazim diketahui.
  • Mencari persamaan dua objek berdasarkan salah satu dari objek yang sudah diketahui
  • Contoh : gadis itu bagaikan bunga mawar di kelas kami.
  1. Analogi yang berupa kiasan
  • Sulit dipahami karena bersifat subjektif dan berdasarkan situasi pembicaraan yang sedang berlangsung.
  • Contoh : daya pikir mahasiswa itu tajam. Kata tajam tidak dapat diukur secara objektif
Analogi berdasarkan pengungkapan isi :
  1. Analogi deklaratif
  • Menjelaskan suatu objek yang belum dikenal berdasarkan persamaannya dengan objek yang sudah dikenal
  • Tidak menghasilkan simpulan
  • Kata-kata yang digunakan : bagaikan,laksana, seperti ,bagai, se….( kata keadaan, misalnya “ seindah” )
Contoh :
(13)  Ia berdiri di depanku dengan wajah merah padam. Matanya melotot bagaikan batara kala yang sedang marah. Lalu, sambil meletakkan pistol dari tangan kirinya di meja, seperti militer siap tembak musuh, ia memukul meja di hadapannya, sambil berteriak tak terkendali. Suaranya menggelegar, mengejutkan seperti guntur di musim panas. Semua orang yang hadir terdiam dan mengecut seperti bekicot disiram garam.
2.  Analogi induktif
  • Menjelaskan suatu objek yang dapat memberikan pengetahuan baru, berdasarkan persamaan ciri utama dengan objek yang sudah dikenal,
  • Menghasilkan suatu kesimpulan induktif yang khusus, seperti : pengetahuan baru, tindakan baru atau pengetahuan baru berdasarkan ciri dasar atas objek lama terhadap fakta baru.
Contoh :
(14) Pada pertengahan juli  1981, saya pergi ke kampus university untuk mengikuti kuliah pagi. Masih ada waktu 30 menit untuk mengikuti kuliah tersebut maka saya dapat berjalan santai sambil menikmati musim panas yang masih terasa sejuk. Di depan kampus, tiba-tiba saya mendengar teriakan,”Halo indonesia.” Saya menengok ke arah suara, sambil bertanya. “How do you know?” Mereka bertiga menjawab dalam bahasa indonesia. “Mudah saja.” Walaupun anda tampak seperti orang philipin, jalan anda persis seperti orang indonesia, “Santai!” Dengan pengalaman itu, saya perlu mengubah jalan saya. Walaupun tidak secepat orang inggris atau orang eropa pada umunya, saya harus membiasakan berjalan secepat mereka. Mereka benar. Orang berjalan santai beresiko dicopet, dipalak atau sejenisnya oleh orang yang akan memanfaatkan kelengahan orang lain. Tegasnya, saya harus berjalan cepat seperti kebiasaan orang eropa.
Sepintas lalu kesimpulan analogi menyerupai generalisasi. Yang dipergunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan ialah gejala-gejala khusus yang diamati. Akan tetapi harus diingat, dalam generalisasi lebih bersifdat umum , lebih luas daripada yang dinyatakan dalam premis-premisnya. Sebaliknya, pada analogi kesimpulan bersifat khusus. Jadi, proses analogi induktif dari fakta yang dibandingkan langsung ditarik kesimpulan khusus. Dalam contoh di atas, simpulan induktif “ saya harus berjalan secepat kebiasaan orang eropa”. Induksi ini berlaku bagi saya dan tidak berlaku bagi orang indonesia yang berupa induksi dalam bentuk generalisasi.
4.6 Ramalan dan Perkiraan
Ramalan adalah semacam inferensi yang berisi pernyataan tentang sesuatu yang terjadi pada waktu yang akan datang. Berdasarkan proses dan landasan berpikir, ramalan dibedakan atas ramalan tidak ilmiah dan ramalan ilmiah. Ramalan tidak ilmiah adalah ramalan yang diperoleh melalui prosedur yang tidak ilmiah, misalnya sesuatu yang bersifat gaib. Ramalan ilmiah (perkiraan) disusun berdasarkan hasil penalaran ilmiah : perhitungan atas fakta, pengalaman empirik, pengujian atau hasil analisis ilmiah yang lazim disebut perkiraan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkiraan yang dibuat selalu menuntut pengamatan terhadap fakta. Jadi, dasarnya adalah fakta. Kata-kata yang lazim digunakan dalam perkiraan :
Memperkirakan/diperkirakan,                          anggapan
Ditaksir,                                                           dapat diproyeksikan,
Sangat mungkin,                                              mungkin,
Boleh jadi,                                                       diduga akan,
Contoh :
(15) Sumitro Djojohadikusumo ( 1997 ) menyatakan bahwa dengan memperhitungkan penurunan kesuburan sebesar 23% penduduk indonesia ditaksir akan berjumlah sekitar 250 juta pada tahun 2000 nanti. Perkiraan tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Jumlah penduduk 2004 ini baru berjumlah lebih-kurang 206 juta. Perkiraan penurunan kesuburan tersebut diduga lebih besar dari perkiraan 23% pada 1997.

5. KESIMPULAN
Data yang dianalisis berdasarkan fakta. Hasil analisis dinterpretasikan menjadi simpulan yang dapat berupa:
  1. Implikasi, yaitu simpulan yang bersifat melibat data artinya dalam kesimpulan itu terkandung hasil analisis data.
  2. Interferensi diambil berdasarkan analisis yang bersumber pada referensi atau rujukan yang datanya tidak dapat  diamati secara langsung  dan tidak terkait langsung dengan kalimat simpulan
  3. Tindakan, yaitu simpulan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari suatu kajian.

Rabu, 27 Maret 2013

Komp.Lembaga Keuangan.Perbankan

Lembaga keuangan basisnya adalah uang.

Fungsi uang : Sebagai alat tukar.
                     Sebagai peyimpan kekayaan.
                     Sebagai alat satuan hitung.

istilah istilah :

1) Financial intermediary : Lembaga perantara keuangan.

2) Pasar modal.
    Obligasi : Surat hutang.
    Saham   : Deviden.

contoh Kasus World Financial Flow :

seseoarang yang di gambarkan sebagai B meminjam uang kepada bank siti untuk suatu keperluan,Namun bila B meninggal dunia,Maka bank siti lah yang harus menanggung biaya pinjaman B.Dari hal itu maka bank siti pun melakukan kerjasama dengan PT.DEF dan PT.KLM dengan perjanjian pembagian tanggung jawab PT.DEF premi =100.000,UP=100juta.PT.KLM premi=80.000,UP=80juta.Namun di karenakan PT.DEF merasa paling besar tanggung jawabnya,maka PT.DEF pun melakukan kerjasama dengan PT.XYZ sebuah perusahaan besar asuransi dunia yang sayangnya tidak ada di indonesia.PTXYZ pun melakukan kerjasamanya dengan PT.XY,PT XZ,PT YZ dengan mengikuti pasar modal karena iklim usaha di indonesia sangat meyakinkan dan pasar modal di indonesia paling di cari orang luar.Dan uang pun kembali berputar pada Bank siti.
    


Kamis, 29 November 2012

Pengaruh Situasi Konsumen

PENGARUH SITUASI KONSUMEN

PENGERTIAN SITUASI

Menurut Engel, dkk(1994) pengaruh situasi adalah pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik obyek. Menurut Asseal (1998) Faktor situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu, kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen

FAKTOR – FAKTOR SITUASI KONSUMEN


Pengaruh situasional dalam konsumen adalah faktor personal dan lingkungan sementara yang muncul pada saat aktifitas konsumen , sehingga situasi konsumen meliputi faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Melibatkan waktu dan tempat di dalam aktivitas konsumen
  2. Mempengaruhi tindakan konsumen seperti perilaku pembelian
  3. Situasi konsumen relative merupakan jangka pendek, tidak termasuk karakteristik personal yang berlaku dalam jangka panjang.
Secara garis besar jenis/tipe situasi konsumen dibagi menjadi 3 sesuai dengan waktu kegunaannya yaitu :
1.   Situasi Komunikasi
Situasi Komunikasi adalah suasana atau lingkungan dimana konsumen memperoleh informasi atau melakukan komunikasi. Komunikasi yg dilakukan bisa bersifat pribadi atau nonpribadi
Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui :

  1. Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga
  2. Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio, internet, koran, majalah, poster, billboard, brosur, leaflet dsb
  3. Informasi diperoleh langsung dari toko melalui promosi.
2.   Situasi Pembelian
Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian.
Misal: Ketika Konsumen berada di bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Coke berapa saja harganya ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Coke di swalayan dan mendapatkan harganya relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga. Konsumen tsb mungkin akan menunda pembelian Coke dan mencari di tempat lain

3.   Situasi Pemakaian
Situasi pemakaian adalah situasi dimana barang yang dibeli dipakai oleh pembeli sesuai dengan situasi yang diharapkan pembeli. Misalnya  Konsumen Baju seragam sekolah tentu digunakan pada saat beraktivitas di lingkungan sekolah, kebaya akan dipakai kaum wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan untuk pergi bekerja. Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke pesta, pakaian olahraga,pakaian untuk beribadah, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan berolahraga.

Tahap-tahap proses pembelian :

1. Pengenalan Masalah
Proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dengan kondisi yang diinginkannya. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan eksternal ataupun internal.


2. Pencarian Informasi
Proses mencari informasi secara aktif dimana konsumen mencari bahan-bahan bacaan, menelpon teman-temannya, dan melakukan kegiatan mencari-cari untuk mengetahui tentang suatu barang dan jasa. Secara umum, konsumen menerima informasi terbanyak dari suatu produk dari sumber-sumber komersial, yaitu sumber-sumber yang didominasi oleh para pemasar. Pada sisi lain, informasi yang paling efektif justru berasal dari sumber-sumber pribadi.

3. Evaluasi Alternatif
Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk terutama berdasarkan pada pertimbangan yang rasional.

4. Keputusan Pembelian
Faktor yang akan mempengaruhi keputusan pembalian adalah sikap orang lain (sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi alternatif pilihan seseorang), tujuan pembelian, persepsi seseorang terhadap barang dan jasa, dan faktor sosial serta budaya.

5. Perilaku Pasca Pembelian
Setelah pembelian suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Jika konsumen marasa puas maka ia akan memperlihatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk itu kembali. Namun, apabila konsumen tidak puas maka ia akan mengurangi ketidakcocokkannya dengan meninggalkan atau mengembalikanproduk tersebut atau mereka mungkin akan mencari informasi yang mungkin mengkonfirmasikan produk tersebut menjadi bernilai tinggi.

INTERAKSI ORANG DENGAN SITUASI
Memahami serta menganalisis pengaruh situasi dalam proses pembelian barang , banyak dan konsumen yang di pengaruhi oleh variasi dari situasi lain yang sesuai dengan keadaan mereka saat itu.

PENGARUH SITUASI YANG TIDAK TERDUGA

Bagaimana seseorang mengerti akan potensi dari pengaruh situasi yang tak terduga yang dapat merusak keakuratan ramalan yang didasarkan pada maksud pembelian , yang tadinya dia tidak mau embeli barang  tapi karena suatu hal jadi membeli barang tersebut.

Kamis, 01 November 2012

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian

A.Proses Pengambilan Keputusan Pada Konsumen
.
Setelah konsumen menerima pengaruh dalam kehidupannya maka mereka sampai pada keputusan membeli atau menolak produk. Pemasar dianggap berhasil kalau pengaruh-pengaruh yang diberikannya menghasilkan pembelian dan atau dikonsumsi oleh konsumen. Keputusan konsumen, tingkatan-tingkatan dalam pengambilan keputusan, serta pengambilan keputusan dari sudut pandang yang berbeda bukan hanya untuk menyangkut keputusan untuk membeli, melainkan untuk disimpan dan dimiliki oleh konsumen.

B.Konsep Keputusan
Keputusan adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Bila seseorang dihadapkan pada dua pilihan, yaitu membeli dan tidak membeli tapi memilih membeli, maka dia ada dalam posisi membuat keputusan. Semua orang mengambil keputusan setiap hari dalam hidupnya tanpa disadari. Dalam proses pengambilan keputusan, konsumen harus melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai. Tiga tingkatan dalam pemecahan ini;
Pemecahan masalah yang mensyaratkan respons yang rutin.
Keputusan yang diambil tidak disertai dengan usaha yang cukup untuk mencari informasi dan menentukan alternatif. Kebiasaan berjalan secara otomatis, prilaku seseorang merupakan respon terhadap rutinitas karena dilakukan berulang-ulang seringkali tanpa disadari.
Pemecahan masalah dengan proses yang tidak berbelit-belit (terbatas).
Pemecahan masalah ini menyebabkan seseorang tidak peduli dengan ada tidaknya informasi dengan menggunakan criteria yang kurang lebih sudah terbentuk, untuk mengevaluasi kategori produk dan mereknya. Tidak mengevaluasi setiap atribut dan fitur produk dalam memilih mana yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pemecahan masalah yang dilakukan dengan upaya yang lebih berhati-hati dan penuh pertimbangan (pemecahan masalah yang intensif).
Di tingkat ini konsumen memerlukan informasi yang relative lengkap untuk membentuk criteria evaluasi dari kriteria yang baku .
Prosesnya lebih rumit dan panjang mengikuti proses tradisional. Mulai dari sadar akan kebutuhan, motivasi untuk memenuhi kebutuhan, mencari informasi, mengembangkan alternative, memilih satu dari berbagai alternatif dan memutuskan untuk membeli. Terutama menyangkut produk yang gampang terlihat oang lain dan sangat mempengaruhi citra diri sosial seseorang (significant others; orang lain yang signifikan bagi kehidupan seseorang, terutama citra dirinya).

C. Analiis Pengambilan Keputusan oleh Konsumen
Ada tiga sudut pandang dalam menganalisis pengambilan keputusan konsumen
-Sudut Pandang Ekonomis
Konsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional, yang mengetahui semua alternative produk yang tersedia dan harus mampu membuat peringkat dari setiap alternative yang ditentukan dipertimbangkan dari kegunaan dan kerugiannya serta harus dapat mengidentifikasikan satu alternative yang terbaik, disebut economic man. Tidak reatistis karena;
1..Manusia memiliki keterbatasan kemampuan, kebiasaan dan gerak.
Contoh; orang yang tidak terampil berkomunikasi akan malas bertanya.
2 Manusia dibatasi oleh nilai-nilai dan tujuan.
Contoh; seorang perempuan yang ingin menghangatkan badan tidak harus pergi ke kota untuk membeli ronde, cukup dengan membuat kopi panas untuk memenuhi tujuannya.
3 Manusia dibatasi oleh pengetahuan yang mereka miliki.
Tidak semua informasi mengenai produk bisa mereka pahami, kriteria evaluasi yang ingin mereka bentuk pun tidak akan setepat economic man. Konsumen tidak membuat keputusan yang rasional, tetapi keputusan yang memuaskan adalah keputusan yang cukup baik.Sudut Pandang Pasif
Sudut pandang ini berlawanan dengan sudut pandang ekonomis, konsumen pada dasarnya pasrah pada kepentingan sendiri dan menerima secara pasif usaha-usaha promosi dari para pemasar. Konsumen dianggap sebagai pembeli yang impulsive dan irasional.
Kelemahannya adalah pandangan ini tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa konsumen memainkan peranan penting dalam setiap pembelian yang dilakukan, baik dalam mencari informasi tentang berbagai alternative produk, maupun dalam menyeleksi produk yang dianggap akan memberikan kepuasan.
-Sudut Pandang Kognitif
Konsumen sebagai cognitive man atau sebagai problem solver. Kosumen merupakan pengolah informasi yang selalu mencari dan mengevaluasi informasi tentang produk dan gerai. Pengolah informasi selalu berujung pada pembentukan pilihan, terjadi inisiatif untuk membeli atau menolak produk. Cognitive man berdiri di antara economic man dan passive man, seringkali cognitive man punya pola respon terhadap informasi yang berlebihan dan seringkali mengambil jalan pintas, untuk memenuhi pengambilan keputusannya (heuristic) pada keputusan yang memuaskan.
-Sudut Pandang Emosianal
Menekankan emosi sebagai pendorong utama, sehingga konsumen membeli suatu produk. Favoritisme buktinya seseorang berusaha mendapatkan produk favoritnya, apapun yang terjadi. Benda-benda yang menimbulkan kenangan juga dibeli berdasarkan emosi.
anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar. Mendapatkan produk yang membuat perasaannya lebih baik merupakan keputusan yang rasional.

D.Model Sederhana untuk menggambarkan pengambilan keputusan konsumen.
Pengaruh Eksternal
Usaha-usaha pemasaran pemasaran
Lingkungan social budaya: keluarga, sumber informal, sumber non komersial, kelas social, budaya dan sub budaya

Pengambilan Keputusan Pada Konsumen
Sadar akan kebutuhan
Mencari sebelum membeli
Mengevaluasi alternatif

-Area psikologis
a. Motivasi
b. Persepsi
c. Pembelajaran
d. Kepribadian
e. Sikap

-Perilaku Setelah Keputusan
Pembelian
a. Percobaan
b. Pembelian ulang



KESIMPULAN
Keputusan membeli oleh konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal maupun internal
-faktor-faktor eksternal, seperti informasi pemasaran dan lingkungan sosial budaya.
-faktor internal ,misalnya motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian, sikap dan pengalaman. Pengambilan keputusan konsumen juga dipengaruhi oleh situasi dimana proses dan perilaku beli terjadi. Situasi komunikasi, situasi pembelian, situasi penggunaan dan situasi penyingkiran produk, semuanya menentukan keputusan beli. Lingkungan fisik, lingkungan sosial, waktu, tujuan pembelian, konsumsi dan suasana hati tidak dapat diabaikan sebagai unsur-unsur yang sangat penting dalam keputusan membeli. Situasi terakhir adalah situasi-situasi tertentu yang banyak dimanfaatkan pemasar untuk mempengaruhi perilaku konsumen.

Saran
Dalam mengambil keputusan mengenai pembelian suatu barang, kita harus memperhatikan mana kebutuhan yang penting dan jumlah uang yang kita punyai, juga menetapkan dan menggunakan berbagai kriteria evaluasi termasuk harga, Merek dan lain-lain pada saat membuat keputusan pembelian. Selain itu, menilai kinerja setiap alternatif sebagai dasar evaluasi serta mengetahui dan memahami bagaimana situasi konsumen dalam menentukan pilihan dengan melihat berbagai aspek yang ada.

Jumat, 12 Oktober 2012

Proses Pengambilan Keputusan Oleh Konsumen

Tipe-tipe proses pengambilan keputusan

Pendahuluan
Keputusan pembelian yang dilakukan konsumen akan mencakup pertimbangan berbagai aspek. Pada umumnya konsentrasi pemasaran lebih diarahkan pada keputusan tentang pemilihan alternatif terhadap merk produk tertentu. Walaupun demikian, ini bukan berarti bahwa keputusan pembelian akan di tentukan oleh kepuasan merk individual saja. Harus juga diingat bahwa, konsumen mengambil keputusan untuk membeli didasarkan atas suatu hierarki proses.
Di dalam proses penentuan alternatif keputusan pada setiap hierarki, seorang konsumen juga menentukan sumber informasi yang akan dijadikan dasar pengambilan keputusan. Beberapa sumber informasi yang dapat dipergunakan oleh konsumen antar lain: dealer, keluarga, teman, dan, media massa.

Pembahasan

Tipe Pengambilan keputusan ( Decision making) : adalah tindakan manajemen dalam pemilihan alternative untuk mencapai sasaran.
Keputusan dibagi dalam 3 tipe :

1.Keputusan terprogram/keputusan terstruktur : keputusan yang berulang-ulang dan rutin, sehingga dapt diprogram. Keputusan terstruktur terjadi dan dilakukan terutama pada manjemen tingkat bawah.Contoh:  keputusan pemesanan barang, keputusan penagihan piutang,dll.

2.Keputusan setengah terprogram / setengah terstruktur : keputusan yang sebagian dapat diprogram, sebagian berulang-ulang dan rutin dan sebagian tidak terstruktur. Keputusan ini seringnya bersifat rumit dan membutuhkan perhitungan-perhitungan serta analisis yg terperinci.Contoh: Keputusan membeli sistem komputer yg lebih canggih, keputusan alokasi dana promosi.

3.Keputusan tidak terprogram/ tidak terstruktur : keputusan yang tidak terjadi berulang-ulang dan tidak selalu terjadi. Keputusan ini terjadi di manajemen tingkat atas. Informasi untuk pengambilan keputusan tidak terstruktur,tidak mudah untuk didapatkan dan tidak mudah tersedia dan biasanya berasal dari lingkungan luar.

Kamis, 04 Oktober 2012

Peranan Bahasa Indonesia Masa Kini

Peranan Bahasa Indonesia Masa Kini

 Menurut saya peranan bahasa indonesia pada masa sekang ini sangat penting karena, pada masa sekarang ini jarang sekali orang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam percakapan sehari-hari namun, dengan adanya sinetron membuat orang ikut-ikutan mengunakan bahasa sinetron yang belum tentu menggunakan bahasa indonesia dengan benar. Menurut saya acara tv sekarang beda dengan acara tv terdahulu. Misalnya di TVRI sangat berbeda dengan stasiun tv sekarang yang hanya mayoritas menayangkan sinetron yang tidak bermutu pasti dalam sinetron tersebut tidak jauh dari pembunuhan, perebutan harta, dan yang selalu marah-marah. Acara tersebut menurut saya tidak bagus dan juga tidak mencerminkan bangsa indonesia sebagai bangsa yang kaya akan bermacam-macam bahasa, dengan adanya berbagai macam bahasa di indonesia. Maka diputuskan lah bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.Sebagai orang indonesia, pasti beranggapan bahwa kita ini sudah mengerti bahasa indonesia. Pada kenyataannya ternyata belum, yang membuat saya terkejut adalah banyaknya penulis yang belum mahir menggunakan bahasa Indonesia.
Kesalahan yang lain juga banyak, seperti penggunaan kata serapan asing yang tidak tepat. Kadang pencampuran bahasa ini membuat saya gemas. Di tempat lain saya pernah menulis bahwa otak saya sudah “keracunan” pola berpikir asing, tapi saya masih berusaha keras untuk tidak mencampur bahasa. Saya sendiri merasa bahasa Indonesia saya masih lemah semestinya kita belajar lagi. Jangan karena merasa sudah menggunakan bahasa indonesia sehari-hari lantas otomatis pandai. Ayo kita belajar bahasa Indonesia lagi!! Bagaimana kita bisa menghargai budaya kita kalau bahasa Indonesia kita kacau belum benar!!


Nama    :Indra Wijaya Kusuma
Kelas    :3EA20
NPM    :13210529
Bahasa Indonesia