Kamis, 28 Maret 2013

Penalaran Karangan

  1. 1.   Pengertian Penalaran
Penalaran mempunyai beberapa pengertian, yaitu: (1) proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan, (2) menghubung-hubungkan fakta atau datasampai dengan suatu simpulan, (3) proses menganalisis suatu topic sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru, (4) proses mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan derajat hubungan dan simpulan, (5) pembahasan suatu masalah sampai menghasailkan suatu simpulan atau pengertian baru.
Unsur-unsur penalaran karangan ilmiah:
1)      Topik yaitu ide sentral dalam bidang kajian dan berisi sekurang-kurangnya dua variable.
2)      Dasar pemikiran, pendapat, atau fakta dirumuskan dalam bentuk proposisi yaitu kalimat     pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau kesalahannya.
3)      Proposisi mempunyai beberapa jenis, antara lain:
(a)    Proposisi empirik yaitu proposisi berdasarkan fakta. Misalnya: Rajin pangkal pandai.
(b)    Proposisi mutlak yaitu pembenaranyang tidak memerlukan pengujian. Missalnya: Kursi adalah tempat untuk duduk.
(c)     Proposisi hipotetik yaitu persyaratan hubungan subjek dan predikat yang harus dipenuhi. Misalnya: Jika dilamar, Icha akan menerimanya.
(d)    Proposisi kategoris yaitu tidak adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat. Misalnya: Tedi akan menikahi Komala.
(e)    Proposisi positif universal pernyataan positif yang mempunyai kebenaran mutlak. Misalnya: Semua yang hidup mempunyai cinta.
(f)     Proposisi positif parsial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsure pernyataan tersebut bersifat positif. Misalnya: Sebagian mahasiswa ingin cepat lulus.
(g)   Proposisi negatif universal yaitu kebalikan dari proposisi positif universal. Misalnya: Tidak ada cinta bagi yang mati.
(h)   Proposisi negatif parsial yaitu kebalikan darai proposisi positif parsial. Misalnya: Sebagian pelajar tinggal kelas.
4)      Proses berpikir ilmiah yaitu kegiatan yang dilakukan secara sadar, teliti, dan terarah menuju suatu kesimpulan.
5)      Logika yaitu metode pengujian ketepatan penalaran, penggunaan argumen (alasan), argumentasi (pembuktian), fenomena, dan justifikasi (pembenaran).
6)      Sistematika yaitu seperangkat proses atas bagian-bagian atau unsure-unsur proses berpikir ke dalam suatu kesatuan.
7)      Permasalahan yaitu pertanyaan yang harus dijawab (dibahas) dalam karangan.
8)      Variabel yaitu unsur satuan pikiran dalam sebuah topik yang akan dianalisis.
9)      Analisis (pembahasan, penguraian) dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklarifikasi, mencari hubungan (korelasi), membandingkan, dan lain-lain.
10)   Pembuktian (argumentasi) yaitu proses pembenaran bahwa proposisi itu terbukti kebenarannya atau kesalahannya. Ini harus disertai dukungan yang berupa: metode analisis, baik manual maupun berupa softwer (misalnya: SPSS). Selain itu, pembuktian harus disertai data yang mencukupi, fakta, contoh, dan hasil analisis yang akurat.
11)   Hasil yaitu akibat yang ditimbulkan dari sebuah analisis induktif atau deduktif.
12)   Kesimpulan (simpulan) yaitu penafsiran atas hasil pembahasan. Dapat berupa implikasi atau inferensi.
  1. 2.   Penalaran Induktif
Proses bernalar, pada dasarnya, ada dua macam, yaitu induktif dan deduktif. Penalaran induktif adalah proses berpikir logis yang diawali dengan observasi data, pembahasan, dukungan pembuktian, dan diakhiri dengan kesimpulan umum. Kesimpulan inin dapat berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum atas fakta yang bersifat khusus. Ada tiga macam penalaran induktif, diantaranya: generalisasi, analogi, dan sebab-akibat.
Generalisasi adalah proses penalaran berdasarka pengamatan atas sejumlah data yang bersifat khusus yang disusun secara logis dan diakhiri dengan kesimpulan yang bersifat umum. Analogi adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas data khusus dengan membandingkan atau mengumpamakan suatu objek yang sudah teridentifikasi secara jelas terhadap objek yang dianalogikan sampai dengan kesimpulan yang berlaku umum. Sebab-akibat adalah proses penalaran berdasarka hubungan antardata yang mengikuti pola sebab-akibat, akibat-sebab, sebab – akibat-akibat.
Contoh:
(1)   Seorang polisi lalu lintas mengidenfikasi proses terjadinya kecelakaan lalu lintas di perempatan Rawamangun Muka, persilangan Rawamangun MUka-Utan Kayu dan Cililitan-Tanjung Priok, yang terjadi pada tanggal 11 April 2011 pukul 07.30 pagi tadi. Sebuah truk dari arah Cililitan menabrak bajaj sehingga terpental 100 meter, bagian depan truk penyok sedalam 15 cm, dan supir bajaj terpental keluar dari kendaraannya. Seorang saksi mata menuturkan bahwa bajaj tersebut terpental berguling-guling di udara. Dalam pengamatannya, melalui proses penghitungan waktu, polisi menyatakan bahwa pada saat truk melintas dari arah Cililitan ke Rawamangun Muka lampu hijau menyala dan dibenarkan oleh para saksi. Polisi juga menyatakan bahwa dalam keadaan lampu menyala merah sebuah bajaj berkecepatan tinggi dari arah Tanjung Priok menerobos sehingga tertabrak oleh truk yang sedang berbelok dari arah selatan kea rah Rawamangun Muka. Hasil pengamatan: supir bajaj terbukti bersalah. Kesimpulan: (1) supir bajaj menanggung biaya kerusakannya sendiri, (2) supir bajaj mengganti biaya perbaikan truk yang menabraknya, (3) supir bajaj membayar denda atas pelanggarannya.
Karangan ilmiah kualitatif induktif dilandasi penalaran (1) observasi data, (2) menyusun estimasi (perkiraan desain), (3) verifikasi analisis pembuktian, (4) pembenaran/komparasi konstan (terus-menerus dan berkelanjutan sampai suatu simpulan), (5) konfirmasi (penegasan dan pengesahan) melalui pengujian hipotesis, (6) hasil generalisasi/induksi, (7) konklusi (simpulan: penafsiran atas hasil berupa implikasi atau inferensi).
Proses bernalar diawali dari topic sampai dengan simpulan: Topik – (mendesain kerangka dasar penalaran) menjadikannya sebuah kerangka karangan – (mendesain metode) pengumpulan data, deskripsi data, dan analisis – (menetapkan) hasil analisis – kesimpulan (menafsirkan hasil analisis).
Gb. 1 perbandingan penalarn indduktif dan deduktif.
  1. 3.   Penalaran Deduktif
      Penalaran deduktif adalah suatu proses berpikir logis yang diawali dengan penyajian fakta yang bersifat umum, disertai pembuktian khusus, dan diakhiri simpulan khusus yang berupa prinsip, sikap, atau fakta yang berlaku khusus. Karangan deduktif mempunyai bermacam-macam jenis berdasarkan tehnik pengembangannya maupun uraian isinya. Dalam paragraf sederhana jenis-jenis tersebut dapat dilihat pada contoh berikut.
Contoh:
(2)   Kegiatan LKMSM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Siswa Muslim) pada bulan Ramadhan sangat meriah. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Siswa-siswi Kota Depok yang diadakan di sekolah SMAN 1 Depok.Dan yang dibimbing oleh Mahasiswa UI Depok. Semua Siswa-siswi yang mengikuti kegiatan tersebut sangat semangat apalagi para Panitia dan Pembimbing sudah menyiapkan Hadiah dan Sertifikat untuk Siswa yang berprestasi saat mengikuti acara.
Paragraf di atas berupa karangan deduktif. Proses penalaran diawali dengan (1) pernyataan yang bersifat umum: Kegiatan LKMSM (Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Siswa Muslim) pada bulan Ramadhan sangat meriah, (2) pembahasan kuantitasi peserta, (3) spesifikasi keadaan kegiatan, (4) pemberian hadiah dan sertifikat untuk siswa yang berprestasi saat mengikuti acara.
Dalam karangan (laporan penelitian) deduktif kuantitatif ditandai dengan penggunaan angka kuantitatif yang bersifat rasional. Secara rinci proses penalaran tersebut menguraikan:
1)       Bidang observasi: berdasarkan bidang studi kajian,
2)       Rumusan masalah: pertanyaan yang akan dibahas,
3)       Kerangka teori: berisi pola pembahasan variable,
4)       Tujuan: tahapan kegiatan yang hendak dicapai,
5)       Rumusan hipotesis dan penjelasannya,
6)       Deskripsi data: diperlukan untuk pengujian hipotesis,
7)       Desain penelitian (metode penelitian): proses pengumpulan data, pengolahan, hasil analisis data, sampai dengan simpulan,
8)       Analisis data,
9)       Hasil analisis,
10)   Simpulan deduktif: interpretasi atas hasil.

3.1 Urutan Logis
Karangan disusun berdasarkan satu kesatuan konsep, dikembangkan dalam urutan logis, sistematik, jelas, dan akurat. Urutan dapat disusun berdasarkan urutan peristiwa, waktu, ruang, penalaran (induksi, deduksi, sebab-akibat), proses, kepentingan, dan sebagainya. Berikut beberapa contoh paragraf dalam urutan tersebut.
3.1.1 Urutan Peristiwa (Kronologis)
Karangan dengan urutan peristiwa secara kronologis berarti menyajikan bahasan berdasarkan urutan kejadian. Peristiwa yang terjadi lebih dahulu diuraikan lebih dulu, peristiwa yang terjadi kemudian diuraikan kemudian. Urutan dapat disajikan dengan pola sebagai berikut:
Cara pertama: urutan kronologis secara alami.
Peristiwa 1,
Peristiwa 2,
Peristiwa 3, dan seterusnya.
Cara kedua: urutan peristiwa dengan sorot balik (flashback).
  1. Peristiwa terakhir
  2. a. Peristiwa pertama
b. Peristiwa kedua
c. Peristiwa ketiga
  1. Peristiwa terakhir.
(1)   Peristiwa terakhir, (2) peristiwa pertama s.d. ketiga dalam bentuk sorot balik atau flashback, (3) kembali peristiwa terakhir dan melanjutkan cerita.
3.1.2 Urutan Ruang
            urutan ruang dipergunakan untuk menyatakan hubungan tempat atau ruang.
Contohnya:
(3)               Di tengah sebuah kamar yang teduh, aku duduk bersila sambil ditemani angin yang pelan. Asalnya dari kipas angin tua yang berada semeter di sampingku. Pasti kipas renta itu bosan karena yang dilakukannya dari tadi hanya memutar baling-balingnya. Jika aku menengadah ke atas, aku akan melihat sebuah lampu menumpahkan cahayanya ke seluruh penjuru kamar. Kamar ini kira-kira memiliki besar yang sama dengan setengah besar lapangan tenis. Di depanku ada sebuah ranjang yang hanya muat untuk satu orang. Di atasnya ada tiga bantal berserakan. Bantal di ujung kanan dan kiri bergambar Spiderman dan Batman, sedangkan bantal di antara keduanya bergambar bunga-bunga. Aku jadi penasaran apa yang kira-kira bisa dilakukan dua “superhero” dunia dengan bunga-bunga di atas ranjang.
Sebuah jam dinding berwarna cokelat digantung di atas meja belajar di dekat pintu. Pukul satu dini hari sekarang. Jarum detik yang tipis berputar dengan rapi dan konsisten. Jarum-jarum jam itu tak pernah mengenal eksistensialisme sebab arah putarannya selalu sama sepanjang waktu. Meja belajar, di bawahnya, sudah terlalu sesak dengan barang-barang nonedukatif. Di atas meja itu ada sebungkus kopi instan, sekotak tisu, kartu remi, botol air mineral yang sudah kosong, obat-obatan, pengharum ruangan dan krim pencuci muka. Lalu di rak atasnya ada satu pak korek kuping, odol, minyak wangi, pencuci rambut, dan kaleng bekas susu. Ada sebuah kursi biru yang melengkapi meja itu, namun jaket putih ditaruh secara asal di situ.
Di samping meja belajar itu ada ruang kosong yang sengaja disediakan agar pintu lemari yang berada di pojok bisa terbuka. Tapi keadaannya tidak betul-betul kosong. Di situ berserakan celana jins, sajadah, sarung, jaket, sapu lidi, timbangan berat badan, keset, dan korek kuping bekas yang semuanya hidup pluralis. Ada sebuah gitar di pojok lain kamar ini. Senar kesatunya sudah putus, membuat senar nada B di atasnya kehilangan satu sahabat resonansi. Alat musik konvensional didalam kamar ini tampaknya hanya gitar itu.
Malam makin larut dan suasana makin sepi. Sebetulnya ada suara-suara kendaraan yang melintas nun jauh puluhan meter di jalan raya, yang sepersekian desibelnya mampu melintas melebihi kecepatan kendaraan itu sendiri dan sampai ke telingaku. Para pengendara malam itu tidak akan pernah menyangka ada seseorang yang sedang mendengarkan mereka. Mereka hanya memikirkan tujuan. Kalau saja aku menyalakan benda elektronik yang ada di kamar ini, misalnya saja televisi yang dari tadi bertengger di atas rak kecil persis di sebelah lemari. Layar empat belas incinya dari tadi merekam setiap gerakanku. Ada antena yang besarnya seperempat televisi itu sendiri. Warnanya oranye, besi-besi transmisinya penyok, dan kabel koaksialnya terbenam di punggung televisi. Mungkin hanya akan terjadi keriuhan kecil karena aku tak mungkin menyalakan benda itu dengan suara keras pada jam seperti ini.
Kita lihat dalam tulisan di atas urutan ruang dipergunakan bersamaan dengan urutan waktu. Untuk menyatakan urutan ruang itu antara lain kita dapat menggunakan ungkapan-ungkapan:
di sana, di sini, di situ,
di, pada,
di bawah, di atas,
di tengah,
di utara, di selatan,
di depan, di muka,
di belakang, di muka,
di kiri, di kanan,
di luar, di dalam,
berhadapan,
bertolak belakang dengan,
berseberangan,
melalui, belok kanan,
belok kiri, ke depan,
ke atas, ke samping,
di sisi, di seberang,
di hadapan,
di persimpangan.
3.1.3 Urutan Alur penalaran
            Berdasarkan alur penalarannya, suatu paragraf dapat dikembangkan dalam urutan umum-khusus dan khusus-umum. Urutan ini telah  dibahas pada bagian sebelumnya. Urutan ini menghasilkan paragraf deduktif dan induktif. Dalamkarangan yang panjang terdiri beberapa bab akan menghasilkan bab simpulan.
Urutan umum-khusus banyak dipergunakan dalam karya ilmiah. Tulisan yang paragraf-paragrafnya dikembangkan dalam urutan ini secara menyeluruh lebih mudah dipahami isinya. Dengan membaca kalimat-kalimat pertama pada paragraf-paragraf itu, pembaca dapat mengetahui garis besar isi seluruh karangan (lihat contoh paragraf induktif dan deduktif sebelumnya).

3.1.4 Urutan kepentingan
Suatu karangan dapat dikembangkan dengan urutan berdasarkan kepentingan gagasan yang dikemukakan. Dalam hal ini arah pembicaraan ialahdari yang paling penting sampai kepada yang paling tidak penting atau sebaliknya.
Contohnya:
(4)               Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun hipotesis. Yang paling penting ialah penyusunan kerangka berpikir berdasarkan atas suatu teori yang dipergunakan sebagai landasan deduksi.kerangka piker inilah yang akan menentukan apa hipotesis yang diajukan mengenai hubungan variabel yang dimasalahkan. Hal berikut yang tidak boleh diremehkan ialah aspek bahasanya.
Suatu hipotesis harus dinyatakan dalam kalimat pernyataan bahwa hipotesis harus dinyatakan sejelas mungkin dan didukung oleh kalimat sesederhana mungkin.
4. Isi karangan
Isi karangan dapat berupa sajian fakta ( benda,kejadian,gejala,sifat atau ciri sesuatu dan sebagainya ), pendapat /sikap dan tanggapan ,imajinasi ,ramaln dan sebagainya. Karya ilmiah berisi sajian ilmu pengetahuan dan teknologi, membahas permasalahan ,pembahasan dan pembuktian. Dalam bagian ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta,generalisasi,spesifikasi,klasifikasi,perbandingan dan pertentangan ,sebab-akibat,analogi dan perkiraan (ramalan)
4.1  Generalisasi dan Spesifikasi
Proses penarikan kesimpulan generalisasi disebut generalisasi juga, jadi generalisasi adalah pernyataan yang berlaku untuk semua atau sebagian besar gejala yang diamati. Suatu generalisasi mencakup ciri-ciri umum yang menonjol bukan rincian. Didalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang pembuktian dengan fakta,contoh-contoh ,data statistik dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus.
Contoh :
Gempa di aceh 26 desember 2004 yang berkekuatan 9 pada skala rigter itu menimbulkan korban jiwa yang terus berjatuhan hingga 31 desember 2004 di srilanka 28.508 orang, india 10.736 orang, thailand 4.500 orang dan di aceh 79.940 dan cenderung bertambah. Selain itu, hingga 2 januari 2005, sekalipun belum ada angka pasti , korban menderita sakit berat dan cacat tubuh yang diakibatkan oleh gempa dan gelombang tsunami yang sangat dahsyat itu di aceh dapat diperkirakan cukup besar. Korban harta benda, termasuk rumah tinggal yang luluh lantah rata dengan tanah dan sebagian terbawa gelombang air laut  tersebut diperkirakan mencapai belasan triliyun rupiah. Korban gempa di aceh ini merupakan yang terbesar di dunia.
Bagian yang dicetak miring merupakan kesimpulan generalisasi. Generalisasi itu didukukng dengan detail awal yang disusun secara logis menuju generalisasi. Perhatikan kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan generalisasi dan ungkapan pendukung.
Ungkapan generalisasi :
Terbesar, ter…                               tidak pernah
Paling besar,                                  pada umumnya
Semua, setiap                                secara keseluruhan,
Ungkapan pendukung :
Cenderung,                                     pada galibnya,
Pada umumnya,                             selalu,
Sebagian besar,                              dukungan kuantitatif (angka)
Perlu diperhatikan bahwa bukti-bukti atau rincian penunjang harus relevan dengan generalisasi yang dikemukakan. Paragraf yang mencatumkan penunjang yang tidak relevan dipandang tidak logis.
Generalisasi yang mengemukakan fakta disebut generalisasi. Faktual atau opini. Generalisasi faktual lebih mudah diyakini oleh pembaca daripada generalisasi yang berupa pendapat atau penilaian. Fakta mudah dibuktikan, mudah diuji kebenarannya, sedangkan opini atau penilaian sulit dibuktikan atau diuji. Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut :
(1)   a. Kependudukan merupakan masalah pokok dunia
b. Baginya masalah itu terlalu remeh
(2)   a. Guru adalah tenaga kependidikan
b. Sudah selayaknya guru di soroti masyarakat
Dengan segera kita dapat diketahui bahwa pernyataan-pernyataan a mengemukakan fakta sedangkan b mengemukakan penilaian/ pendapat.
Selanjutnya, generalisasi dapat berupa pokok pembicaraan, seperti geografi , sastra/seni, teknologi, bangsa, negara dan sebagainya. Dalam paragraf, generalisasi itu dapat diletakkan pada bagian awal atau akhir.
4.2  Klasifikasi
Klasifikasi adalah pengelompokkan fakta berdasarkan atas ciri atau kriteria tertentu. Klasifikasi ada dua jenis yaitu klasifikasi sederhana yang hanya mengelompokkan objek menjadi dua kelompok , misalnya : manusia terdiri dua jenis yaitu pria dan wanita ; dan klasifikasi kompleks yang mngelompokkan objek menjadi tiga kelompok atau lebih, misalnya : usia manusia dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok yaitu anak balita ,anak usia  sekolah SD,SMP dan SMU, orang dewasa dan manula.
Baik klasifikasi sederhana maupun kompleks harus didasarkan kriteria ciri yang menandai fakta yang akan diklasifikasikan. Klasifikasi dalam penalaran ini berbeda dengan pembagian. Tetapi jika kita mengklasifikasi ke dalam lima kelompok menurut indeks prestasi belajarnya, hasilnya :
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 4,
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 3,
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 2
  • kelompok mahasiswa dengan IPK 1 , dan
  • kelompok mahasiswa dengan IPK lebih kecil dari 1
sekumpulan fakta atau data diklasifikasikan berdasarkan kriteria. Misalnya, klasifikasi mahasiswa menurut umurnya, hobinya, jenis kelaminnya, tempat tinggalnya, latar belakang pekerjaan orang tuanya dan sebagainya. Kriteria ini bergantung kepada keperluan atau masalah yang dihadapi. Yang penting kita harus memilih kriteria yang paling logis dan dilakukan secara konsisten.
Dalam pengembangan karangan, klasifikasi merupakan sejenis generalisasi. Fakta yang banyak dikelompokkan menurut persamaan/perbedaab yang ada. Dengan demikian sekurang-kurangnya sudah dikemukakan dua macam generalisasi yaitu generalisasi biasa dan generalisasi klasifikasi contoh :
  1. bahasa-bahasa di madagaskar, formosa, filipina dan indonesia termasuk rumpun bahasa austronesia ( generalisasi klasifikasi )
  2. semua mahasiswa mampu berpikir mandiri ( generalisasi biasa )
untuk menulis klasifikasi  diperlukan kata-kata atau ungkapan berikut :
jenis , tipe,                               dengan mudah dapat dikelompokkan
cara, sumber,                           dengan jelas dapat dibedakan,
bagian,aspek,dipandang,          ditinjau dari,
kategori,ciri-ciri,                      menurut, dapat dibagi,
kelas,dengan mengingat,          golongan, sesuai dengan
contoh :
(8)  Jenis transportasi modem yang digerakkan dengan mesin dapat diklasifikasi menjadi : transportasi udara, laut dan darat. Pertama, transportasi udara terdiri dua jenis, yaitu : pesawat terbang sipil dan pesawat terbang militer. Kedua, transportasi darat terdiri dari kereta api, mobil dan sepeda motor ; masing-masing dapat digunakan untuk keperluan militer maupun sipil. Selain itu, masing-masing terdiri beberapa jenis berdasarkan daya angkut, kecepatan melaju atau kapasitas penumpang. Ketiga, transportasi laut menggunakan kapal. Kapal ini dapat diklasifikasi berdasarkan besar-kecilnya, daya jelajahnya, fungsinya dan sebagainya.
4.3 Perbandingan dan Pertentangan
Perbandingan dan pertentangan sebenarnya merupakan dua hal yang berbeda tetapi erat hubungannya sehingga seringkali dibicarakan bersama-sama. Keduanya seringkali terdapat dalam satu karangan.
Perbandingan membahas kesamaan dan kemiripan sedangkan pertentangan membahas perbedaan dan ketidaksamaan. Kalimat-kalimat berikut merupakan indikator perbandingan dan pertentangan.
Dahulu di gunung kidul air sangat langka,sekarang mudah didapat.
Perbedaan sistem liberal dan demokrasi pancasila
Apa persamaan antara suling dengan klarinet?
Anak muda sekarang lebih bebas bergaul daripada anak muda dahulu
India adalah negara benua sedangkan indonesia adalah negara maritim.
Perhatikan contoh berikut
(9)  kerangka karangan ada dua macam yaitu kerangka topik dan kerangka kalimat. Keduanya sama baiknya. Perbedaannya terletak pada bentuk dan pemakaiannya. Kerangka topik terdiri dari butir-butir yang merupakan topik-topik dan digunakan jika kita mengemukakan taraf-taraf dalam suatu proses, kerangka kalimat terdiri dari butir-butir yang merupakan kalimat dan merupakan bentuk yang lebih baik jika kita mengemukakakan gagasan.
Paragraf di atas sekaligus mengemukakan perbandingan dan pertentangan, yaitu persamaan dan perbedaan antara kerangka topik dan kerangka kalimat. Kata-kata/ungkapan yang dipergunakan untuk menyatakan perbandingan dan pertentangan di antaranya :
Untuk membandingkan:                                                          Untuk mempertentangkan:
Sama dengan,                                                              berbeda dengan,
Seperti,                                                                                    bertentangan dengan,
Seperti halnya,                                                                         berlawanan dengan,
Menyerupai,                                                                ….sedangkan…..,
Hampir sama dengan,                                                  sebaliknya
Selaras dengan,                                                                        dipihak lain,
Sesuai dengan,                                                             kurang dari,
Tepat sama dengan,                                                     tidak sama dengan,
Demikian juga,                                                                        akan tetapi,
Sama saja,                                                                    halnya dengan,
Serupa dengan,                                                                        meskipun,
Sejalan dengan,                                                                        lain halnya dengan.
Perhatikan contoh perbandingan berikut ini.
(10)                                          Ion Hutan dan Plasmacluster
Hutan memiliki mekanisme membersihkan udara secara alami. Proses berlangsung dengan prinsip keseimbangan ion positif dan ion negatif. Penelitian Sharp Corporation menyebutkan bahwa hutan memiliki lebih kurang 4200 ion/cc udara ion positif dan ion negatif. Sedangkan udara perkotaan mengandung ion negatif 100 ion/cc dan 500 ion/cc. Namun, kondisi ini kurang efektif mengurangi bakteri dan jamur. Ini berbakti belum efektif mengurangi sumber penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara dalam ruang.
Generator plasmacluster( Sharp)  didesain untuk menghasilkan ion positif dan ion negatif, masing-masing 50.000 ion setiap detik. Penelitian departemen biologi ITB menyimpulkan plasmacluster mampu menonaktifkan bakteri di ruang sebesar 320  hingga 100% selama 6 jam dan jamur hingga 100% dalam waktu 12 jam. Selain  itu penelitian kitasato research centre of environmental sciences ( jepang, ion positif dan ion negatif dapat mengatasi bakteri, jamur dan virus. ( kompas, 20 Agustus 2004 )
(11)      film misteri bertentangan dengan upaya mencerdaskan anak. Banyak orang tua mengeluhkan anaknya menjadi penakut. Mereka mengambil minum di ruang makan sendiri pun tidak berani. Bahkan, mereka belajar pun juga harus ditemani. Ibu yang menemani tertidur, ia pun ikut tidur. Namun, tayangan acara tersebut tetap berlangsung. Iklan yang mendukung acara ini juga banyak. Artinya, tayangan  film ini cukup laku : banyak penggemar dan banyak sponsor.
4.4  Sebab dan Akibat
Suatu peritiwa dapat menyebabkan serangkain akibat sehingga timbullah serangkaian sebab-akibat. Dalam proses sebab-akibat, sebab dan akibat itu kerap kali tidak jelas, mana sebab dan mana akibat. Setiap titik pada sisi lingkaran dapat merupakan awal dan akhirnya. Peristiwa awal merupakan sebab terhadap peristiwa berikutnya dan sebaliknya.
Sebab-akibat ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1)      Satu sebab-satu akibat
2)      Sebab-akibat berkelanjutan  membentuk lingkaran
3)      Satu sebab-banyak akibat
4)      Banyak sebab-satu akibat
5)      Sebab- akibat berkelanjutan menuju situasi memburuk
6)      Sebab-akibat berkelanjutan menuju situasi  membaik
Proses mengarang dengan penalaran sebab-akibat: 1) menentukan topik, 2) menentukan pola, 3) menetukan sebab, 4) mulai menulis dengan kalimat topik yang menjadi sebab, 5) menjelaskan sebab-sebab tersebut, mengapa sebab-sebab itu bisa terjadi, 6) menyebutkan/ menjelaskan akibat yang ditimbulkan.
Kata atau ungkapan yang lazim digunakan :
Oleh sebab itu, dengan pertimbangan bahwa
Oleh karena itu,                                   dengan alasan itu
Akibatnya,                               dengan alasan itu
Alhasil, jadi,                            pengalaman membuktikan bahwa
Sebab,                                      karena,
Contoh :
(12)   Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) diawali pada masa orde baru. Pada ,masa itu, KKN mulai lahir, tumbuh menjadi besar dan menyebar ke seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa indonesia. Penyebaran bagaikan virus ganas,KKN merasuki berbagai lembaga eksekutif,legislatif dan yudikatif. Bahkan, pada tahun 2004 ini begitu banyak kasus KKN di kalangan DPRD di berbagai daerah terungkap. Akibatnya, begitu banyak masalah bangsa sulit teratasi. Misalnya pencurian penebangan hutan secara liar hingga saat ini 2004 masih berlangsung. Orang yang berakal  sehat tidak percaya, pemerintah tidak mampu mengatasi pencurian hutan, pencemaran lingkungan, narkoba dan lain-lain. Selain itu, pertumbuhan ekonomi terlalu lambat, kepastian hukum tidak berlangsung semestinya, kualitas SDM menjadi amat rendah di banding negara lain yang dulunya di bawah kualitas bangsa indonesia.
4.5 Analogi
Analogi adalah suatu bentuk kias persamaan atau perbandingan dua atau lebih objek yang berlainan, misalnya manusia dan semut, malaikat dan manusia. Kedua objek tersebut dicari persamaannya ( bukan perbedaannya ). Pengungkapan, secara garis besar analogi dapat dibedakan atas :
  1. Analogi sederhana
  • Mudah dipahami karena mencari persamaan dua objek yang tidak menuntut penjelasan fakta secara mendalam dan sudah lazim diketahui.
  • Mencari persamaan dua objek berdasarkan salah satu dari objek yang sudah diketahui
  • Contoh : gadis itu bagaikan bunga mawar di kelas kami.
  1. Analogi yang berupa kiasan
  • Sulit dipahami karena bersifat subjektif dan berdasarkan situasi pembicaraan yang sedang berlangsung.
  • Contoh : daya pikir mahasiswa itu tajam. Kata tajam tidak dapat diukur secara objektif
Analogi berdasarkan pengungkapan isi :
  1. Analogi deklaratif
  • Menjelaskan suatu objek yang belum dikenal berdasarkan persamaannya dengan objek yang sudah dikenal
  • Tidak menghasilkan simpulan
  • Kata-kata yang digunakan : bagaikan,laksana, seperti ,bagai, se….( kata keadaan, misalnya “ seindah” )
Contoh :
(13)  Ia berdiri di depanku dengan wajah merah padam. Matanya melotot bagaikan batara kala yang sedang marah. Lalu, sambil meletakkan pistol dari tangan kirinya di meja, seperti militer siap tembak musuh, ia memukul meja di hadapannya, sambil berteriak tak terkendali. Suaranya menggelegar, mengejutkan seperti guntur di musim panas. Semua orang yang hadir terdiam dan mengecut seperti bekicot disiram garam.
2.  Analogi induktif
  • Menjelaskan suatu objek yang dapat memberikan pengetahuan baru, berdasarkan persamaan ciri utama dengan objek yang sudah dikenal,
  • Menghasilkan suatu kesimpulan induktif yang khusus, seperti : pengetahuan baru, tindakan baru atau pengetahuan baru berdasarkan ciri dasar atas objek lama terhadap fakta baru.
Contoh :
(14) Pada pertengahan juli  1981, saya pergi ke kampus university untuk mengikuti kuliah pagi. Masih ada waktu 30 menit untuk mengikuti kuliah tersebut maka saya dapat berjalan santai sambil menikmati musim panas yang masih terasa sejuk. Di depan kampus, tiba-tiba saya mendengar teriakan,”Halo indonesia.” Saya menengok ke arah suara, sambil bertanya. “How do you know?” Mereka bertiga menjawab dalam bahasa indonesia. “Mudah saja.” Walaupun anda tampak seperti orang philipin, jalan anda persis seperti orang indonesia, “Santai!” Dengan pengalaman itu, saya perlu mengubah jalan saya. Walaupun tidak secepat orang inggris atau orang eropa pada umunya, saya harus membiasakan berjalan secepat mereka. Mereka benar. Orang berjalan santai beresiko dicopet, dipalak atau sejenisnya oleh orang yang akan memanfaatkan kelengahan orang lain. Tegasnya, saya harus berjalan cepat seperti kebiasaan orang eropa.
Sepintas lalu kesimpulan analogi menyerupai generalisasi. Yang dipergunakan sebagai dasar penarikan kesimpulan ialah gejala-gejala khusus yang diamati. Akan tetapi harus diingat, dalam generalisasi lebih bersifdat umum , lebih luas daripada yang dinyatakan dalam premis-premisnya. Sebaliknya, pada analogi kesimpulan bersifat khusus. Jadi, proses analogi induktif dari fakta yang dibandingkan langsung ditarik kesimpulan khusus. Dalam contoh di atas, simpulan induktif “ saya harus berjalan secepat kebiasaan orang eropa”. Induksi ini berlaku bagi saya dan tidak berlaku bagi orang indonesia yang berupa induksi dalam bentuk generalisasi.
4.6 Ramalan dan Perkiraan
Ramalan adalah semacam inferensi yang berisi pernyataan tentang sesuatu yang terjadi pada waktu yang akan datang. Berdasarkan proses dan landasan berpikir, ramalan dibedakan atas ramalan tidak ilmiah dan ramalan ilmiah. Ramalan tidak ilmiah adalah ramalan yang diperoleh melalui prosedur yang tidak ilmiah, misalnya sesuatu yang bersifat gaib. Ramalan ilmiah (perkiraan) disusun berdasarkan hasil penalaran ilmiah : perhitungan atas fakta, pengalaman empirik, pengujian atau hasil analisis ilmiah yang lazim disebut perkiraan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkiraan yang dibuat selalu menuntut pengamatan terhadap fakta. Jadi, dasarnya adalah fakta. Kata-kata yang lazim digunakan dalam perkiraan :
Memperkirakan/diperkirakan,                          anggapan
Ditaksir,                                                           dapat diproyeksikan,
Sangat mungkin,                                              mungkin,
Boleh jadi,                                                       diduga akan,
Contoh :
(15) Sumitro Djojohadikusumo ( 1997 ) menyatakan bahwa dengan memperhitungkan penurunan kesuburan sebesar 23% penduduk indonesia ditaksir akan berjumlah sekitar 250 juta pada tahun 2000 nanti. Perkiraan tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Jumlah penduduk 2004 ini baru berjumlah lebih-kurang 206 juta. Perkiraan penurunan kesuburan tersebut diduga lebih besar dari perkiraan 23% pada 1997.

5. KESIMPULAN
Data yang dianalisis berdasarkan fakta. Hasil analisis dinterpretasikan menjadi simpulan yang dapat berupa:
  1. Implikasi, yaitu simpulan yang bersifat melibat data artinya dalam kesimpulan itu terkandung hasil analisis data.
  2. Interferensi diambil berdasarkan analisis yang bersumber pada referensi atau rujukan yang datanya tidak dapat  diamati secara langsung  dan tidak terkait langsung dengan kalimat simpulan
  3. Tindakan, yaitu simpulan yang dilakukan sebagai tindak lanjut dari suatu kajian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar